Friday, September 25, 2020

Pom Bensin

Suatu hari ketika lagi nunggu isi BBM di pom bensin, September 2018.

Terlihat ada jalur antrian untuk mengisi BBM kendaraan roda dua dan roda empat. Motor, dengan antrian yang panjang, pengisisannya lebih cepat, sehingga flow nya cepat. Sedang mobil walau hanya satu-dua antrian, butuh waktu lama hingga tangkinya penuh terisi. 

Hidup itu kadang seperti menjadi motor, kadang menjadi mobil. Bisa jadi cepat diisi BBM nya, sesuai kapasitas motor. Sedangkan kalau mobil harus butuh waktu untuk bisa diisi sampai full, karena mobil kapasitasnya besar, butuh tenaga lebih banyak, sehingga punya nilai guna lebih banyak pula.

Ibarat mobil itu diri ini, diri kita yang besar. Besar kapabilitas diri, berbesar hatinya, luas terbuka pikirannya, kuat mentalnya. Semoga kita kearah sana. Pribadi masa depan yang lebih baik yang selalu diidam-idamkan diri ini yang kemarin. Butuh waktu untuk terbentuk menjadi pribadi yang besar bukan?

Semua ada jalurnya masing-masing dan waktunya masing-masing, bukan?

- dasar diriku, yang terlalu lama hidup di (per)jalanan. 

Teruslah

 



Jangan kau terpaku

Dari hal yang membuat kau terbelenggu

Tapi berjanjilah

Teruslah melangkah

Walau sang harap lelah menuntun arah

Sunday, May 31, 2020

Lewat Kata


Suka banget sama kata-kata yang menyejukkan hati pembacanya. Apalagi kalo lagi baca sesuatu kemudian ngerasa pas sama yang sedang dialami, feel so much relate. Salut banget sama penulis yang bisa menerjemahkan isi hati yang gak pernah terucap. 

I personally belief the power from the words. Bisa menebas dan membangun mood dengan mudahnya. Bisa memotivasi atau miskomunikasi. Jadi hati-hati. Pernah ku buka buku catatan sekolah adikku, tertulis pepatah Arab: 
"Perkataan itu dapat menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum"

Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda, "Setiap ucapan Bani Adam membahayakan dirinya kecuali kata-kata berupa amar ma'ruf dan nahi mungkar serta berdzikir kepada Allah." (HR. Tirmidzi)

Semoga kita bisa menghiasi lisan kita dengan kebaikan dan banyak mengingat Allah SWT.
Menjaga lisan kecuali dalam kebaikan bukan?

"Ayo bisa-bisa", ujar teman yang menyemangati ketika sedang lelah-lelahnya mendaki bukit itu.
Ya, kekuatan itu datang lewat kata.

Sunday, December 29, 2019

Belajar dan seterusnya

November 12th, 2019

Hari ini makmuman sama ibuk2 di klinik.. Tadinya mau solat sendiri, eeh ko ibuknya kaya mau ngajakin tapi nggak juga, lalu kubilang, "bareng ya bu.."
Trus beliau bilang, "iya, saya lagi kurang sehat"
.
Lalu dimulailah dengan khidmat dibacakannya surat Al-fatihah dengan lirihnya, suara yang terputus, seolah hampir pecah jadi tangis, namun sendu dalam, dan merasuk.
.
Langsunglah ngerasa bersalah, jadi kayak ngerepotin yaa kalau jadi bareng gini. Di sisi lain ngerasa salut juga, ditengah kondisinya yang lagi sakit, kayaknya tenggorokannya, tetap bisa se-khidmat itu.
.
Trus keinget, orang sakit aja masih disuruh solat. Jadi kalo sehat, ya jangan sampe gak solat. Orang sakit juga makin berlipat pahalanya insyaAllah, karena udah sabar sama sakitnya, dan karena ikhtiarnya untuk solat berdiri jika mampu.
Terlebih lagi, orang sakit aja bisa se-khidmat dan se-khusyuk itu, kalah weh. Orang sehat jangan mau kalah khidmat dan khusyuk okeh?
.
Nikmat yang paling sering kita terlupa adalah nikmat sehat dan nikmat waktu luang.
.
Mungkin disitulah kesempatan lagi lebar lebarnya dibuka untuk beribadah seluas luasnya.
.
Trus liat status seseorang yg lagi dalam kondisi berat yang bilang, ya Allah peluklah aku sebentar saja.
Huhuu siapa yang gak mau dipeluk sama Allah 😭😭

Be Grateful

August 1st, 2019

Have been wandering around hospital for these last 4 months.
And that's the best place to seek gratitude.

If you say you're at the lowest point in your life
You're gonna take those words until you see those person in hospital
The one whose nose was attached to a pipe
The one whose breath was helped by ventilator
The one whose head was bandaged post operation
The one whose skins were stiched

And the picture of a woman took care of her husband, and how a man really took care of his wife, accompanied by her daughter.
Or a child lean on her mother's arm.
Or an old man sat in a wheelchair, accompanied by his sons.

It really is a struggle. Pure sacrifice. Purest love spreads with sincerity.
And surely, heaps of patience surrounded around those hearts.

Somehow all leads to a goal which, i wanna be there for the people i love, my future husband, kids, parents and myself. I have to. Who doesn't?

Until one time I went on mushola, the prayer room, i saw this one man who had difficulties on praying. My tear stream couldn't even be held anymore.

Like how if, after all these eases we got, Allah choose to take the ease to pray.

That must have been hard.

How if, after all these years we're living, we can't get closer to Allah at our elder time, at the very ending of this life.

Like, how, if?

Hopefully we're always be surrounded by the ease of praying, halawatul iman, ease of getting hidayah from Allah SWT.

Mau kan, menang?



Lalu bagaimana caranya bisa menang?
Ternyata kemenangan itu kusadari
Bisa diraih kalau kau bisa berdiri
Tak peduli seberapa banyak luka dari kau terjatuh

Ternyata kemenangan itu
Bukan comparing to others
Apalagi competing to others
Tapi terhadap diri ini sendiri
Asal kau bisa mengalahkan musuh dalam kepalamu
That’s the time when you win

Maka kau, menang
Mau kan, menang?

Thank you, Time


Afterall I’ve been through,
Definitely would like to thank time, for teaching me how, and bigger HOW in comprehending and accepting the fact in this life
Giving me patient lesson, more than I ever imagine
Seeking for a value in every little thing I thought I’d missed
With time, I started to know that it doesn’t take few time to finally see the whole problem
Gathering some proofs and adequate data wouldn’t be completed without time
Til finally, here comes the point where you eventually realize which way you choose
To finally make a step
Brand new one, heavy but strong one